Haedar Nashir: Tujuh Agenda yang Harus Digarap 5 Tahun Kedepan

Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) TA. 2023-2024
03/01/2023

STKIP ‘AISYIYAH RIAU. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengungkapkan tujuh agenda yang perlu digarap oleh Persyarikatan dalam lima tahun ke depan agar Muhammadiyah dapat menjadi “leader” atau kekuatan strategis yang berpengaruh dalam memimpin masa depan umat dan bangsa.

Pertama, Peneguhan Paham Keislaman dan Ideologi Muhammadiyah. Peneguhan ini dianggap penting karena selama ini masih banyak kader dan anggota yang tidak sejalan dengan ideologi Persyarikatan. Padahal, dokumen resmi soal pandangan Muhammadiyah amat lengkap, misalnya:
Manhaj Tarjih, Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah, Khittah Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, Dakwah Kultural, Pernyataan Abad Kedua, Negara Pancasila Darul Ahdi Wa Syahadah, dan lain-lain.
“Sejumlah kasus orang luar menumpang di organisasi Muhammadiyah kemudian berperkara secara hukum dan lain-lain karena paham Islam dan pemikirannya bertentangan dengan Muhammadiyah. Termasuk anggota, kader, dan pimpinan yang hanya berpikir sendiri dan merasa sudah sejalan dengan Muhammadiyah, padahal sejatinya tidak sejalan,” ungkap Haedar.
Hal-hal seperti ini ke depan diharapkan tidak terjadi lagi. Internalisasi ideologi Muhammadiyah menurutnya harus kuat dilakukan secara sistemik dan menjadi prioritas setiap pimpinan Muhammadiyah dari Pusat hingga Ranting.

Kedua, Penguatan dan Penyebarluasan Pandangan Islam Berkemajuan. Sebagai organisasi sosial-keagamaan dan bukan parpol, warga dan pimpinan Muhammadiyah selayaknya tidak disibukkan pada isu-isu yang bukan bidangnya seperti isu politik.
Sebaliknya, mereka dianggap perlu lebih menyibukkan diri pada isu-isu diniyyah atau keagamaan untuk membimbing umat sembari menghambat adanya pengerasan ideologi Islamisme yang cenderung reaktif, ekslusif, dan ekstrim.
“Muhammadiyah penting hadir secara aktif dalam menyebarluaskan dan menawarkan orientasi religius Islam yang di satu pihak dapat menjadi obat penawar kehausan beragama di tubuh umat yang benar secara akidah dan ibadah tetapi juga mampu membimbing umat dalam akhlak dan muamalah yang dinamis, mencerahkan, dan berkemajuan,” pesan Haedar.
Pandangan kosmopolitanisme Islam Muhammadiyah yang berwawasan universal dan global, diharapkan juga mampu menjadi pandangan umat agar terhindar dari pribumisasi Islam yang cenderung lokal dan chauvinis. Termasuk terhindar dari disrupsi akibat revolusi sains yang nampaknya berhadap-hadapan dengan agama.
“Di sinilah pentingnya penguatan dan penyebarluasan pandangan Islam berkemajuan dalam membimbing paham dan praktik keagamaan umat dan masyarakat luas,” ujar Haedar.

Ketiga, Memperkuat dan Memperluas Basis Umat di Akar-rumput. Sejak masa Kiai Ahmad Dahlan, komunitas menjadi nyawa Muhammadiyah di desa maupun kota dengan masjid dan ranting sebagai pusat gerakannya. Muhammadiyah pun telah merumuskan panduan lewat strategi Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ) (1968), Dakwah Kultural (2002) dan Dakwah Komunitas (2015).
Haedar berharap semangat kerumunan ini dihidupkan kembali untuk membesarkan dakwah dan amal usaha Muhammadiyah. Selain itu, setiap anggota Persyarikatan diharapkan mengubah pendekatan dakwahnya agar dakwah Muhammadiyah masuk, melekat dan diterima di semua segmen lapisan masyarakat. Untuk keperluan ini, strategi kebudayaan dan peta jalan (road map) perlu dirumuskan oleh majelis yang bersangkutan.
“Pemetaan dan reaktualisasi gerakan sangatlah penting untuk mengakselerasikan penyebarluasan pandangan dan perwujudan Islam Berkemajuan, sekaligus menghadirkan dakwah dan tajdid Muhammadiyah yang aktual-kontekstual,” jelasnya.

Keempat, Mengembangkan AUM Unggulan dan Kekuatan Ekonomi. Sebagai ciri Muhammadiyah, amal usaha dianggap perlu membangun peta jalan untuk memajukan keunggulan dan kualitas setiap AUM. Dalam bidang ekonomi, Muhammadiyah diharapkan menjadi pelaku yang turun ke lapangan dan bukan sekadar menjadi pengamat.
Dalam lima tahun ke depan, Muhammadiyah diharapkan mengembangkan berbagai pemberdayaan, bisnis dan ekonomi luring/online Muhammadiyah maupun UMKM secara lebih gigih, masif, dan tersistem. Pada saat yang sama bisnis berskala menengah ke atas mulai digarap dan dikembangkan, dengan dikoneksikan dengan unit-unit usaha di berbagai amal usaha Muhammadiyah yang ada.

Kelima, Berdakwah bagi Milenial, Generasi Z dan Generasi Alpha. Jumlah ketiga generasi tersebut dalam piramida penduduk Indonesia sangat tinggi, menurut Sensus Penduduk Indonesia tahun 2020 total 173,48 juta jiwa atau 64,69% dari total penduduk.
Ketiga generasi baru tersebut produk dunia dan alam pikiran “android” serta sebagaimana ditengarai oleh Noah Harari menjadi bagian dari generasi “Homo Deus” yang mendewakan teknologi, artificial intelligence (AI), dan revolusi bioteknologi yang canggih sehingga bila tidak tersentuh oleh pendidikan nilai agama yang benar dapat menjadi generasi yang agnostik, sekuler, dan liberal dari agama.
Muhammadiyah penting hadir di tengah komunitas tiga generasi baru itu dengan pendekatan baru, terutama lewat Angkatan Muda.

Keenam, Reformasi Kaderisasi dan Diaspora Kader ke Berbagai Lingkungan dan Bidang Kehidupan. Muhammadiyah saat ini berfastabiqul-khairat dengan berbagai pihak dalam mengisi ruang struktur dan ekosistem kehidupan dengan menempatkan kader-kadernya yang berintegritas dan berkeahlian tinggi di berbagai aspek kehidupan.
Lima tahun ke depan, Haedar menganggap perlunya reformasi kaderisasi Muhammadiyah untuk mempersiapkan diaspora kader di berbagai struktur dan lingkungan di luar maupun ke dalam, sehingga gerakan Islam ini mengalami perluasan melalui peran para kadernya.

Ketujuh, Digitalisasi dan Intensitas Internasionalisasi Muhammadiyah. Digitalisasi merupakan proses yang niscaya bagi Muhammadiyah saat ini dan ke depan. Proses digitalisasi juga menjadi penting satu paket dengan gerakan literasi Muhammadiyah untuk mencerdaskan, memajukan, dan mencerahkan kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.
Bersamaan dengan digitalisasi baik dalam pengembangan dan publikasi pemikiran Muhammadiyah ke dunia internasional maupun dalam pelaksanaan program internasionalisasi diniscayakan peningkatan intensitasnya. Penerjemahan buku-buku, pemikiran-pemikiran resmi, dan publikasi aktivitas Muhammadiyah ke dalam berbagai bahasa internasional harus menjadi satu paket dengan digitalisasi dan internasionalisasi Muhammadiyah yang selama ini telah dirintis Muhammadiyah.
Peran PCIMA dan organisasi sister juga diharapkan Haedar untuk dioptimalkan dalam agenda strategis tersebut. Termasuk 173 perguruan tinggi, dan Universitas Siber Muhammadiyah yang selama ini akrab dengan dunia digital dan relasi internasional.

(Sumber: muhammadiyah.or.id)***

Web
Analytics

Lihat Statistik